Rabu, 08 Februari 2017

Alasan sesungguhnya mengapa harus pilih oli dengan HTHS tinggi

Penulis prihatin karena di dunia oli Indonesia itu banyak salah paham walau sebenarnya itu bisa mudah di klarifikasi. Salah satu contohnya adalah soal HTHS.

HTHS itu singkatan dari High Temperature High Shear. Artinya temperatur tinggi dan kocokan tinggi. Di dunia oli Indonesia HTHS ini sering diartikan sebagai kemampuan oli dalam bertahan terhadap suhu tinggi dan kocokan tinggi. Ini kurang tepat.

Sebenarnya gampang untuk mencari informasi yang benar. Kita tinggal lacak dari spesifikasi oli. Biasanya angka spesifikasi juga akan menyebutkan standar pengujian yang dilakukan. Angka spesifikasi HTHS biasanya disebutkan menggunakan standar pengukuran ASTM D4683. Kita tinggal lihat penjelasan dari HTHS di website astm.org.

Dari penjelasan website astm.org untuk standar pengukuran D4683,
HTHS itu dijelaskan sebagai kondisi dari pengukuran kekentalan. Jadi HTHS itu intinya kekentalan.

Oleh karena itu, angka HTHS itu tidak bisa dihubungkan dengan merek. Karena tiap merek akan punya range kekentalan sendiri sendiri walau misalkan angka SAE sama. Terserah pabrik olinya mau bikin oli kekentalan berapa. Untuk jenis oli yang sama, suatu pabrik oli bisa saja mengeluarkan beberapa kekentalan yang berbeda. Kekentalan berbeda akan menghasilkan angka HTHS yang berbeda Harus diingat juga bahwa angka SAE atau standard ILSAC itu melakukan klasifikasi dengan range. Jadi oli dengan SAE yang sama angka kekentalannya tidak selalu sama.



Angka HTHS juga tidak ada hubungan dengan base oil. Karena base oil nya apapun, kekentalan bisa dirubah sesuai keinginan pabriknya.

Angka HTHS juga tidak ada hubungannya dengan kestabilan viskositas. Namun memang angka HTHS bisa dipakai sebagai cara untuk memperkirakan VI bila juga di bandingkan dengan kekentalan kinematic viscosity di suhu 40 dan 100 derajat. oli dengan VI tinggi maka selisih angka HTHS dengan angka KV 40 akan lebih sedikit.  HTHS tinggi tidak berarti VInya tinggi karena kalau angka KV nya tinggi ya otomatis HTHS juga akan tinggi.

Angka HTHS juga tidak ada hubungannya dengan daya tahan terhadap kocokan. Angka daya tahan terhadap kocokan itu bukan pakai HTHS tapi pakai angka "shear stability". Sayangnya angka shear stability ini jarang disebutkan di spesifikasi sehingga kita tidak bisa membandingkan antar merek. Angka HTHS bisa dipakai untuk mengindikasikan shear stability bila kita juga membandingkan dengan angka VI, KV40 dan KV100.

Oli makin kental itu perlindungannya makin baik karena film strength oli kental akan lebih baik. Film strength ini juga akan membuat oli lebih licin.

Walau lebih kental itu perlindungannya lebih baik, kita tidak bisa menggunakan acuan angka HTHS untuk menentukan daya perlindungan dari oli. Ini karena daya perlindungan oli mesin tidak ditentukan oleh HTHS saja. Formulasi aditif bisa mempengaruhi film strength, sehingga angka HTHS tinggi tidak menjamin perlindungan akan lebih bagus.

Ini bisa kita lihat contohnya di websitenya 540 RAT. Oli untuk mesin diesel (HDEO) terlihat punya film strength lebih rendah daripada oli untuk mesin bensin (PCMO) walaupun oli diesel rata rata lebih kental daripada oli bensin. Ini bisa terjadi karena aditif untuk oli mesin diesel lebih difokuskan pada daya pembersihan dan daya tahan terhadap oksidasi karena bahan bakar yang pakai solar.

Kita juga tidak bisa bilang oli merek A perlindungannya lebih baik karena punya HTHS lebih tinggi dari merek B. Karena bisa jadi oli merek A pakai aditif yang lebih banyak dari merek B sehingga perlindungan jadi lebih meningkat.

Dengan pakai aditif friction modifier oli dengan kekentalan 10W30 bisa punya kemampuan perlindungan yang sama dengan 10W40 walau lebih encer. Perlindungan lebih baik ini ditandai dengan suara mesin yang lebih halus. Aditif yang biasa dipakai terutama adalah Ester, MoDTC, MoDTP atau aditif organic seperti oleic acid atau stearic acid seperti yang terkandung pada minyak kelapa sawit.

Jadi sesungguhnya alasan untuk memilih oli dengan HTHS tinggi itu adalah untuk mendapatkan oli yang film strengthnya lebih baik. Namun karena film strength tidak hanya dipengaruhi oleh angka HTHS saja, maka kita juga harus mempertimbangkan kandungan aditif dari suatu oli. Karena aditif ini sifatnya rahasia, maka kita cuma bisa mendasarkan pada coba coba sendiri atau testimoni.

Dari sisi film strengthnya oli, rasanya cuma websitenya 540 RAT yang bisa diandalkan. Angka hasil perlindungan pada spesifikasi oli biasanya menguji film strength dari aditif padatan dari olinya, bukan olinya sendiri.

Ada yang menyarankan untuk jangan menggunakan oli dengan HTHS dibawah angka tertentu. Itu ada benarnya namun itu sangat tergantung pada mobilnya. Karena sekarang musimnya gerakan mobil irit, maka mobil baru dirancang untuk bisa pakai oli lebih encer tanpa rusak. Untuk bisa aman, maka baik mobil dan olinya sudah harus sesuai dengan standar oli encer tersebut (ILSAC GF). Jadi mobil yang tidak dirancang untuk standar tersebut jangan sembarangan pakai oli encer. Mobil yang sudah dirancang dengan standar tersebut jangan sembarangan pakai oli yang tidak lulus standar tersebut walau sama sama encer. Tidak cukup hanya keenceran saja, aditif nya juga harus sesuai standar. Tentunya oli dengan aditif lebih banyak atau lebih bagus biasanya punya harga lebih mahal. Ini yang membuat oli encer harganya menjadi lebih mahal.

Untuk meningkatkan performa tidak bisa asal olinya encer. Karena kalau perlindungannya kurang justru performa berkurang dan bahkan suara mesin makin berisik. Kalau perlidungan bagus, maka mesin justru makin halus suaranya walau oli lebih encer. Seperti yang banyak diceritakan oleh yang sudah coba tambah minyak goreng ke oli mesin.

Bila perlindungannya jelek, maka justru pakai oli lebih kental performa dan irit bisa lebih bagus. Untuk itu perlu untuk tidak asal percaya dan melakukan konfirmasi atau klarifikasi suatu klaim.

Sumber:
Apa itu HTHS
Basic soal perlindungan oli
Basic soal friction modifier
Testimoni hasil pemakaian minyak kelapa sawit untuk meningkatkan film strength


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar