Rabu, 05 April 2017

Mobil pakai BBM bakal dilarang, malah disuruh pakai mobil listrik padahal mudah terbakar apalagi yang buatan Indonesia

Mobil listrik masih beresiko terbakar tapi kok dipaksa disuruh pakai?


Isu global warming yang sudah memaksa industri mobil untuk mengurangi emisi sudah mulai berimbas mematikan industri kendaraan bermotor. Di eropa sudah ada wacana untuk melarang mobile diesel, seperti diberitakan ndtv.com berikut:
European Parliament Moves Closer To Banning Diesel Cars
The aftermath of the VW emissions cheating scandal or ‘Dieselgate’ as is known globally has resulted in severe implications in continental Europe. European commissioner Elzbieta Bienkowska mentioned how these new rules would work in favor of getting diesel cars off the roads and how the popularity of diesel might actually drop much faster than originally expected. Demand for diesel cars is set to drop to only 30 percent of total car sales in the EU region by 2020, down from about 50 percent or half the market share that it enjoys today.

Dikatakan bahwa kecurangan VW dalam uji emisi membuat munculnya keinginan untuk melakukan ban terhadap mobil dengan mesin diesel. Peraturan baru nantinya diharapkan dapat mengurangi pangsa pasar mobil diesel dari sekarang 50% menjadi 30% di tahun 2020 (sudah dekat ya).

Bahkan negara lain pun juga sudah mengeluarkan rencana ban tidak hanya mobil diesel saja tapi juga mobil bensin. Contohnya adalah Belanda dan Norwegia:
Di Eropa Mobil Bensin dan Diesel Bakal Dilarang
Negeri Belanda yang akan melarang penjualan mobil berbahan bakar bensin dan diesel mulai 2025. Mulai tahun itu, semua mobil baru yang dijual di negeri kerajaan itu tidak boleh menggunakan bahan bakar fossil, harus menggunakan listrik atau hidrogen. Norwegia juga ingin melarang penjualan mobil bensin dan diesel mulai 2025

Lalu Jerman:
Germany To Ban Sale Of Petrol And Diesel Vehicles From 2030
the federal house of the German Government, the Bundesrat, or the house that represents all the 16 German states has voted to ban the sale of any petrol or diesel powered vehicle from the year 2030. This ban will follow a set of higher taxes for internal combustion engines that will aid to hasten their departure.

Dikatakan bahwa lembaga federal Jerman telah memutuskan akan melarang penjualan kendaraan yang menggunakan bensin dan solar (mestinya termasuk juga motor) di tahun 2030. Ban ini akan diikuti dengan peingkatan pajak tinggi untuk kendaraan dengan mesin bakar untuk mempercepat proses penghentian.

Dengan gerakan untuk pada mengembangkan mobil listrik seperti itu, maka besar kemungkinan Indonesia bakalan ikut ikut.

Yang penulis khawatirkan adalah Indonesia jelas tidak siap tapi nekat. Bukti nekat adalah berita berikut ini:
Dahlan: Kebakaran baterai mobil listrik persoalan sepele
Wali Kota Yogyakarta meminta dua unit mobil listrik itu ditampilkan kembali di Yogya yakni Selo dan Gendhis warna hijau. Seorang petugas bengkel mencharge semua mobil listrik.
"Selo dicharge, dua Gendhis juga dicharge. Satu Gendhis lagi (warna merah putih) seharusnya tidak perlu dicharge, juga dia charge lagi. Padahal masih sangat penuh, belum pernah dipakai (tidak dibawa ke UGM hari itu). Tapi petugas tersebut tidak tahu kalau listriknya masih penuh. Dia charge dan dia tidak lihat level isinya. Itulah yang terbakar," jelasnya.

Dahlan menuturkan, mobil yang terbakar itu tidak ikut dipamerkan pagi harinya. Sebab masih dalam penyempurnaan. Sehingga, baru dipasang satu alat otomatis yang bisa stop sendiri kalau baterainya sudah penuh. Sedangkan, untuk Selo dan dua Gendhis lainnya sudah dipasangi alat otomatis sehingga tidak terjadi apa-apa.

Dikatakan bahwa itu persoalan sepele. Terjadi karena mobil tidak dipasangi pembatas charging.

Bagi penulis itu adalah masalah besar. Masalah utamanya adalah para pembuat mobil listrik itu menyepelekan bahaya dari batre lithium. Seharusnya mereka sebagai pemain baru di mobil listrik tidak main main dengan batre yang dikenal mudah terbakar bila overcharging atau overheating. Seharusnya mereka pakai teknologi batre yang aman seperti misalnya lead acid.

Tapi demi mengejar prestise, mereka malah sok jago menggunakan batre lithium. Sudah begitu, mereka juga sepertinya tidak beli beserta battery current dan thermal management system. Padahal di mobil listrik beneran, keduanya merupakan komponen yang sangat penting untuk keamanan. Current management untuk mengatur suplai arus yang masuk dan keluar dari baterai sehingga tidak berlebihan dan menimbulkan panas atau masalah, sementara thermal management memastikan bahwa batre selalu bekerja pada suhu yang optimal.

Keduanya penting untuk mencegah kejadian terbakar baik saat di charge ataupun saat parkir seperti berikut ini:
Mobil Listrik yang Pernah Tampil di KTT APEC Terbakar Dalam posisi terparkir di dalam bengkel.


Yang berikut ini jelas ngawur:
Sepuluh Alasan Memilih Mobil Listrik
7. Aman Tidak Terbakar
Anda mungkin pernah lihat atau menemui mobil BBM yang terbakar akibat menabrak atau terlibat kecelakaan. Mobil listrik bisa terhindar dari bahaya terbakar, karena tidak melibatkan bahan bakar minyak. Hal tersebut akan menambah tingkat keamanan pengendara di dalam mobil litrik.

Harus diingat bahwa batre itu bisa menghasilkan hidrogen dan oksigen bila mengalami panas atau dicharging berlebihan. Hidrogen itu merupakan zat yang sangat mudah terbakar. Digoncang sedikit bisa terbakar.

Jadi walau mobil listrik itu tidak pakai bensin atau solar, mobil listrik itu bisa terbakar karena bahan batre yang dipakai sangat mudah terbakar.


Berikut contoh ribetnya batre mobil listrik lain:







Bagaimana dengan Indonesia?

Penulis nggak pernah dengar ada yang ngomong soal teknologi pendinginan batre. Rasanya pembuat mobil listrik di Indonesia juga nggak perduli soal pendinginan batre.




Semoga pembuat mobil listrik di Indonesia tidak meremehkan bahaya kebakaran yang disebabkan oleh batre. Dari yang sudah terjadi terbukti bahwa mereka terlalu meremehkan, sebaiknya jangan sok pakai teknologi lithium daripada mencelakakan orang.

6 komentar :

  1. Lebih baik mencoba tapi gagal daripada cuma bisa mencela..klo merasa punya ide yg berguna sampaikan saja ke pengembang mobil listrik negeri kita,saya rasa itu lebih baik.

    BalasHapus
  2. Gagal resikonya nyawa. Postingan ini cuma salah satu cara agar mereka yang mengembangkan mau memperhatikan.

    BalasHapus
  3. Kecil kemungkinan, masa pertamina harus tutup.

    BalasHapus
  4. Iya, Indonesia bakalan masih lama sekali karena prasarana sama sekali nggak siap. Bisa bakal jadi tempat buangan mobil BBM yang nggak bisa dijual di luar negeri juga.

    BalasHapus
  5. Dr pembuangan masif dunia teknologi masa kini, hanya baterai yg masih stagnan
    Harus ada inovasi D ranah perbatraian..

    Untuk jangka dekat, mobil listrik masih sulit berkembang di tanah air. Mending benahi dulu sistem transportasi publik tanah air

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. mending dianjurkan pakai motor yang lebih irit dan lebih bebas kemacetan.

      Hapus