Minggu, 30 April 2017

1200cc itu terlalu besar untuk green city car, 1000cc sudah lebih dari cukup

Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa Toyota dan Daihatsu telah merilis versi baru dari Agya dan Ayla. Tampilan memang makin cakep:

Yang masalah adalah mesinnya, mengapa kok sekarang jadi 1200cc.

Memang sih banyak yang mengeluh mesinnya jadi terasa lemah. Tapi keluhan itu seringnya datang dari yang sering pakai mobil lain yang lebih bertenaga atau yang sering menggunakan mobil untuk balapan sama yang ccnya besar atau yang sering pakai di tol.

Sementara itu untuk pemakaian normal, rasanya nggak ada yang mengeluh. Dipakai luar kota ok, dipakai di tol ok, dipakai jalan kampung ok, dipakai angkut barang sampai penuh ok, dipakai naik gunung pun ok. Jadi sebenarnya tenaganya sudah cukup.

Penulis sendiri merasa tenaga Ayla 1000cc itu sudah berlebih lebihan. Akselerasi 0-100 itu 15 detikan. Memang kalau dibandingkan sama Yaris atau Honda Jazz beda jauh, tapi kan ini mobil asalnya dibuat untuk transportasi saja? Untuk apa harus tenaganya besar? Waktu segitu sudah lebih cepat dari Isuzu Panther turbo. Sudah lebih cepat dari motor matik yang dianggap lumayan mewah semacam Honda PCX atau Yamaha NMax. Performa sudah mendekati motor sport.

Kalau butuh tenaga besar mengapa tidak beli sirion atau etios saja yang tenaganya lebih besar? Toh akhirnya setelah tenaga Ayla dinaikkan, harga jadi mendekati harga keduanya.

Banyak juga yang salah pakai atau salah modif. Akselerasi tidak memanfaatkan rpm powerband tapi cuma asal injak. Yang pakai matik juga injaknya nanggung, nggak sampai mentok dan mengaktifkan switch kickdown. Padahal kalau dipakai dengan benar, di jalan kalau lagi menyalip nggak akan ketinggalan sama mobil mobil lain di jalan yang ccnya lebih besar.

Modif sering cuma asal meniru tapi tidak benar benar dicek sendiri sehingga akhirnya bukan tenaga berkurang tapi malah tenaga ngedrop. Waktu pertama nggak ketahuan, setelah beberapa bulan performa anjlok jauh. Saking parahnya sehingga perlu sering servis. Anehnya mereka nggak sadar bahwa tenaga yang nambah setelah servis itu tanda tenaganya berkurang. Yang standaran justru nggak merasa berkurangnya tenaganya setiap servis.

Mungkin ada yang mengeluh dipakai menanjak gunung terasa ngempos. Menurut penulis itu karena salah pakai powerband. Untuk menanjak, perlu tenaga. Dan tenaga mesin di Agya dan Ayla itu baru keluar di atas 4000 rpm. Jadi harusnya bila menanjak tanjakan curam, rpm harus dijaga diatas 4000.

Tapi sebenarnya kalau bisa pas, di rpm 1500 pun bisa dipakai menanjak. Seperti yang penulis lakukan berikut ini, menanjak di rpm 1500 an (gigi 3):


Padahal mobil penulis masih standar. Memang sih sudah pakai modif pro capacitor dan cemenite yang bisa membuat mesin berjalan lebih mulus di rpm lebih rendah, tenaga dan irit sedikit nambah walau pakai premium. Tapi paling tidak mobil Agya / Ayla lain mestinya bisa melakukan hal yang sama di rpm 2000.



Selain harga yang lebih mahal, nggak sesuai dengan semangat low cost, penambahan cc tersebut mestinya bakal membuat jadi lebih boros. Jadi nggak sesuai dengan semangat green car. Nggak cocok lagi disebut low cost green car.

Memang sih mapping bisa disetel agar tenaga di rpm bawah ngirit banget dan tenaga baru keluar di rpm tinggi. Tapi seandainya ngiritnya pakai trik seperti itu, yang pakai masih tetap bakalan protes. Karena kebanyakan orang kalau menyalip rpm nya nggak dimanfaatkan.


Rasanya, kalau pemilik Agya / Ayla masih mengeluh tenaga mesin terlalu lemah, besok besok bakal ada Mobil LCGC Ayla 2000cc, dengan harga setara sedan. Joss.

3 komentar :

  1. Ya banyak orang ga memahami karakter kendaraannya sendiri baik motor atau mobil. Taunya kalau cc besar itu pasti lebih kencang. Saya pakai sedan 2000cc, dibeberapa kondisi bahkan mobil saya terlihat lebih lelet dari mpv 1500cc.
    Contohnya kalau saya cruising di tol 90 kpj dengan gigi 5 untuk akselerasi ke 110-120 kpj akan lebih lambat dari yang 1500cc. Saya harus turun ke gigi 3 agar mampu mengimbangi dan baru bisa meninggalkan mobil 1500cc setelah 130kpj keatas.
    Begitu juga saat mendaki gunung. Jika ada mobil lain didepan saya katakan avanza yang dibilang jago naik gunung, maka benar Mobil saya bakal ngos-ngosan untuk mengikuti avanza tersebut karena memang mobil masih ada di powerband rendah ditambah bobot lebih berat. Tapi jika saya yang di depan maka si avanza tidak akan bisa mendekati baik saat naik/turun gunung karena faktor tenaga dan juga handling.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya setuju. Saya lebih sering lihat mobil kencang tapi akselerasinya lambat. Justru yang mobil box itu yang kencang kencang akselerasinya.

      Hapus
  2. Setuju, banyak yang belum tahu kiat memaksimalkan power kendaraan ber CC kecil

    BalasHapus